Setelah terhitung sudah hampir setahun atau mungkin dua tahun aku ndak menulis suatu blog, jadi teringat dahulu kala alasan mengapa mulai tidak menulis suatu blog... karena disaat kita menulis sesuatu, adalah paling baik kalau kita melakukannya. Do what You write and Write what You Do . Karena di saat keteguhan diri mulai menyusut untuk melakukan apa yang telah ditulis, maka mulai pula menyusut keteguhan diri untuk menulis apa yang diresahkan.
Dan sekarang di tanggal 23 Mei ini, tiba-tiba ada keinginan untuk menulis lagi ,karena ada seorang teman yang tadi pagi ngeblog juga dan isi blognya membuatku terinspirasi mungkin, mungkin juga karena selama ini ada hal yang dipikirkan tapi belum sempat dituliskan karena takut nggak bisa menjaga kata-kata, atau mungkin diri ini sudah siap untuk menerima konsekuensi apabila tidak dapat memegang ucapan sendiri. But now i'm ready!
Come on guys!! negara ini (baca:Indonesia) sudah melimpah orang-orang yang hanya mau aman dan nyaman, kurang gereget untuk melakukan apa yang ideal, hanya bertahan pada budaya-budaya kotor yang tidak mendidik pribadi. Terus menerus dalam sistem yang buruk, cenderung mengarah ke KKN seperti halnya film-film luar negeri zaman dahulu kala seperti "Jang Geum" atau "Judge Bao", dan sekarang pun Indonesia masih belum bisa melewati kebiasaan-kebiasaan buruk nan kotor. Memang sepertinya anak muda anak muda seperti kita-kita perlu dibiasakan untuk melakukan hal-hal yang menggereget, bahasa kerennya sih, "raihlah mimpi", "perjuangkan passion-mu". Karena sudah sangat jelas bahwa hal yang kita kerjakan akan menjadi kesenangan apabila itu yang kita senangi, tapi akan menjadi beban apabila itu tidak kita senangi.
Prihatin juga melihat apa yang telah disampaikan guru etikaku yang heboh belakangan ini, Ibu Sri Mulyani Indrawati often called SMI by public dari kuliah etikanya (bisa baca versi penuhnya di sini). Ternyata kebusukan-kebusukan budaya itu sudah mendarah daging, mengakar di pemerintah sana. Pantes aja beberapa BUMN masih ketularan busuknya, lha wong DPRnya sendiri kotor kayak gitu. Ayo kita kutip salah satu kalimat yang dilontarkan bu SMI
"Saya termasuk yang sungguh sangat merasakan penderitaan selama menjadi
menteri. Karena itu tidak terjadi. Waktu saya menjadi menteri, sering saya
harus berdiri atau duduk berjam-jam di DPR. Disitu anggota DPR bertanya
banyak hal. Kadang-kadang bernada pura-pura sungguh-sungguh. Merek
emngkritik begitu keras. Tapi kemudian mereka dengan tenangnya mengatakan
'Ini adalah panggung politik bu. "
Bocoran dari bu SMI tentang kondisi di DPR. Ibu SMI bercerita kondisi di DPR dan orang-orang DPR itu ketika ditanya bu SMI, hanya tenang menjawab "Ini adalah panggung politik, Bu". Sebagai orang yang diamanahkan keputusan oleh rakyat, sebagai pejabat publik - yaitu pejabat yang membuat keputusan untuk kepentingan rakyat yang sangaaat banyak -, dimana nuranimu, Bung!?.
I wish i wont be orang busuk. Memang yang terasa, yaitu saat detik-detik qt masuk dunia kerja, apalagi dunia kerja yang sangat dekat dengan kekuasaan, perlahan-lahan idealisme kita dipaksa untuk menutup diri. Dari semua elemen perusahaan, pegawai-pegawai cenderung menutup suatu idealisme yang membangun, dengan dalih bahwa di dunia kerja kita harus mempertimbangkan segala sesuatu, tidak hanya idealisme. Memang,, that's right, but without idealism, so lets just keep rotten and rotting !
Dan hanya sedikit saja orang-orang yang masih mempertahankan nurani pribadinya. Karena idealis yang saya maksud disini itu tidaklah jauh dari nurani pribadi kita, dan kembali berujung pada hati dan perasaan kita, untuk dipertanggungjawabkan pada Alloh yang Maha Kuasa.
Lama kelamaan, hati nurani pun dikotori suatu sistem, budaya, kebiasaan buruk yang lama-kelamaan pula membuat kita terbiasa melakukan dosa-dosa. Naudzubillah. Beratnya untuk mengubah suatu kebiasaan buruk...
Hadist Riwayat Muslim : ”Jika kamu melihat kemungkaran, ubahlah dengan TANGANMU (kekuasaan yang dimiliki), jika tak mampu ubahlah dengan lisanmu, jika tak sanggup ubahlah dengan hatimu, dan itu adalah selemah-lemah Iman"
akhh, betapa hadits ini sangat membuka cakrawala (wuidih, cakrawala) kalau ternyata untuk menjadi orang baik itu nggak bisa dengan hanya berdoa saja. Karena sebenernya, berdoa adalah selemah-lemahnya iman. Harus ada suatu ikhtiar yang pasti, usaha yang pasti dan dijelaskan dalam hadis ini, yaitu dengan mulut, lisan, perkataan, saran kita. Dan tingkatan tertinggi adalah dengan kekuasaan kita, power kita, wewenang kita...
i wish i'm not just prayin without action...
Dan terus ke Bu SMI, sangat salut saya dengan Ibu karena di usia begitu, Ibu tetap mempertahanakan what we called "idealism" or "hati nurani", dan juga Ibu SMI telah menunjukkan keberanian yang sangat admiring dengan cara berbicara lugas, jujur, apa adanya di depan publik. Sesungguhnya Ibu adalah orang yang lebih berdakwah daripada orang-orang yang hanya berdoa dan diam saja.
salutku pada orang-orang seperti Ibu, kuharap ku akan segera menyusul.