Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

jey ikh's Site

Blog EntryMay 23, '10 9:25 AM
for everyone
Setelah terhitung sudah hampir setahun atau mungkin dua tahun aku ndak menulis suatu blog, jadi teringat dahulu kala alasan mengapa mulai tidak menulis suatu blog... karena disaat kita menulis sesuatu, adalah paling baik kalau kita melakukannya.  Do what You write and Write what You Do .  Karena di saat keteguhan diri mulai menyusut untuk melakukan apa yang telah ditulis, maka mulai pula menyusut keteguhan diri untuk menulis apa yang diresahkan.

Dan sekarang di tanggal 23 Mei ini, tiba-tiba ada keinginan untuk menulis lagi ,karena ada seorang teman yang tadi pagi ngeblog juga dan isi blognya membuatku terinspirasi mungkin, mungkin juga karena selama ini ada hal yang dipikirkan tapi belum sempat dituliskan karena takut nggak bisa menjaga kata-kata, atau mungkin diri ini sudah siap untuk menerima konsekuensi apabila tidak dapat memegang ucapan sendiri.  But now i'm ready!

Come on guys!! negara ini (baca:Indonesia) sudah melimpah orang-orang yang hanya mau aman dan nyaman, kurang gereget untuk melakukan apa yang ideal, hanya bertahan pada budaya-budaya kotor yang tidak mendidik pribadi.  Terus menerus dalam sistem yang buruk, cenderung mengarah ke KKN seperti halnya film-film luar negeri zaman dahulu kala seperti "Jang Geum" atau "Judge Bao", dan sekarang pun Indonesia masih belum bisa melewati kebiasaan-kebiasaan buruk nan kotor.  Memang sepertinya anak muda anak muda seperti kita-kita perlu dibiasakan untuk melakukan hal-hal yang menggereget, bahasa kerennya sih, "raihlah mimpi", "perjuangkan passion-mu".  Karena sudah sangat jelas bahwa hal yang kita kerjakan akan menjadi kesenangan apabila itu yang kita senangi, tapi akan menjadi beban apabila itu tidak kita senangi.

Prihatin juga melihat apa yang telah disampaikan guru etikaku yang heboh belakangan ini, Ibu Sri Mulyani Indrawati often called SMI by public dari kuliah etikanya (bisa baca versi penuhnya di sini).  Ternyata kebusukan-kebusukan budaya itu sudah mendarah daging, mengakar di pemerintah sana.  Pantes aja beberapa BUMN masih ketularan busuknya, lha wong DPRnya sendiri kotor kayak gitu.  Ayo kita kutip salah satu kalimat yang dilontarkan bu SMI

"Saya termasuk yang sungguh sangat merasakan penderitaan selama menjadi 
menteri. Karena itu tidak terjadi. Waktu saya menjadi menteri, sering saya 
harus berdiri atau duduk berjam-jam di DPR. Disitu anggota DPR bertanya 
banyak hal. Kadang-kadang bernada pura-pura sungguh-sungguh. Merek 
emngkritik begitu keras. Tapi kemudian mereka dengan tenangnya mengatakan 
'Ini adalah panggung politik bu. "

Bocoran dari bu SMI tentang kondisi di DPR.  Ibu SMI bercerita kondisi di DPR dan orang-orang DPR itu ketika ditanya bu SMI, hanya tenang menjawab "Ini adalah panggung politik, Bu". Sebagai orang yang diamanahkan keputusan oleh rakyat, sebagai pejabat publik - yaitu pejabat yang membuat keputusan untuk kepentingan rakyat yang sangaaat banyak -, dimana nuranimu, Bung!?.

I wish i wont be orang busuk.  Memang yang terasa, yaitu saat detik-detik qt masuk dunia kerja, apalagi dunia kerja yang sangat dekat dengan kekuasaan, perlahan-lahan idealisme kita dipaksa untuk menutup diri.  Dari semua elemen perusahaan, pegawai-pegawai cenderung menutup suatu idealisme yang membangun, dengan dalih bahwa di dunia kerja kita harus mempertimbangkan segala sesuatu, tidak hanya idealisme.  Memang,, that's right, but without idealism, so lets just keep rotten and rotting ! 

Dan hanya sedikit saja orang-orang yang masih mempertahankan nurani pribadinya.  Karena idealis yang saya maksud disini itu tidaklah jauh dari nurani pribadi kita, dan kembali berujung pada hati dan perasaan kita, untuk dipertanggungjawabkan pada Alloh yang Maha Kuasa.

Lama kelamaan, hati nurani pun dikotori suatu sistem, budaya, kebiasaan buruk yang lama-kelamaan pula membuat kita terbiasa melakukan dosa-dosa.  Naudzubillah. Beratnya untuk mengubah suatu kebiasaan buruk...

Hadist Riwayat Muslim : ”Jika kamu melihat kemungkaran, ubahlah dengan TANGANMU (kekuasaan yang dimiliki), jika tak mampu ubahlah dengan lisanmu, jika tak sanggup ubahlah dengan hatimu, dan itu adalah selemah-lemah Iman"

akhh, betapa hadits ini sangat membuka cakrawala (wuidih, cakrawala) kalau ternyata untuk menjadi orang baik itu nggak bisa dengan hanya berdoa saja.  Karena sebenernya, berdoa adalah selemah-lemahnya iman.  Harus ada suatu ikhtiar yang pasti, usaha yang pasti dan dijelaskan dalam hadis ini, yaitu dengan mulut, lisan, perkataan, saran kita.  Dan tingkatan tertinggi adalah dengan kekuasaan kita, power kita, wewenang kita...

i wish i'm not just prayin without action...

Dan terus ke Bu SMI, sangat salut saya dengan Ibu karena di usia begitu, Ibu tetap mempertahanakan what we called "idealism" or "hati nurani", dan juga Ibu SMI telah menunjukkan keberanian yang sangat admiring dengan cara berbicara lugas, jujur, apa adanya di depan publik.  Sesungguhnya Ibu adalah orang yang lebih berdakwah daripada orang-orang yang hanya berdoa dan diam saja.  

salutku pada orang-orang seperti Ibu, kuharap ku akan segera menyusul.



Blog EntryDec 30, '08 9:07 PM
for everyone
Bermula dari pertemanan, mungkin temen-temen pernah ngerasain gimana kalau kita punya temen tapi temen itu ga sesuai ama pikiran kita.  Mungkin dia berpikir hal yang sama sekali kita nggak bisa terima.  Mungkin juga menurut kita, dia sedang berada di jalan yang sedikit melenceng dari yang kita tahu alias berada di jalan yang sesat.

Jadi inget salah satu topik pembicaraan dengan seorang teteh sebut saja 'teteh' yang kurang lebih seperti ini,

"Heh, kamu,, kapan mau punya pendamping ??" kata si teteh sambil iseng-iseng (tapi serius sepertinya)

"Haah, emangnya harus ya punya pendamping sekarang-sekarang, teh? yaa, abisnya juga lagi mencari juga, blum ada yang sekufu (baca : setingkatan dalam iman dan segalanya yang dapat dipertimbangkan untuk pernikahan yang barokah)"

"Yah, mau nunggu sampe kapan?? lagian kamu ini Cowo.. kamu bisa mendidik"

". . . . . "


Dan ada lagi sebuah perbincangan yang pernah terjadi dengan seorang teman akhwat,

"Gw tahu, orang kayak elu hanya nyari orang yang perfect aja. Perhatiin juga cewe-cewe yang kurang perfect kenapa.  Mereka juga perlu orang yang bisa membimbing mereka.  Susah kan mereka juga ingin menjadi lebih baik, tetapi ga ada yang ngajarin", katanya gesit

"Yah,,,, itu kan justru urusan mereka, kan cewe baik untuk cowo baik, dan sebaliknya.  Jadi kenapa nggak berusaha jadi baik dahulu, baru mikirin yang lainnya (baca : jodoh)"

"Ya kan gw udah bilang, orang kaya mereka tuh butuh yang bisa mbimbing, mereka ga tau dari mana dapet ilmu itu"

". . . . . "


Yap, itulah kira-kira.  Kenapa sih orang-orang koq seperti  "geregetan" pengen melihat cepet-cepet menentukan, nggak ngerti juga.  Tapi bukan ke arah situ yang ingin dibahas, tetapi lebih ke arah bagaimanakah kita bisa mendidik seseorang.  Teringat lagi suatu ayat Quran yaitu :

Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).

Ustadz Miftah Faridl pun di ceramah nikah teh Dilla dan kang Repi mengatakan seseuatu yang selalu teringat di pikiran,

"Membina cinta itu dilakukan setelah akad nikah"

Maka jadi berpikiralah saya akan perbincangan teman-teman dan teteh tadi di awal tulisan.  Semua orang pingin untuk menjadi baik.  Dan suatu keistimewaan tersendiri untuk bisa membuat orang lain menjadi baik. Tapi khawatirnya, kalau kita terlalu ingin membuat seseorang menjadi lebih baik, dan sebelum pernikahan,, akan lebih banyak ruginya daripada manfaatnya.  Misalnya saja, bukan tidak mungkin kan kita menjadi suka orang itu secara berlebihan.  Padahal masih belum melakukan akad menikah. Dan bukan tidak mungkin itu adalah mendekati zina.

Selain itu ada pula ayat Quran yang lain :

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk (Qs. Al Qashash (28): 56)

Ya, intinya mungkin juga, kita bisa berdakwah di jalan Alloh, tetapi, hasil akhirnya orang yang kita inginkan untuk menjadi lebih baik itu, hanya Alloh yang berkehendak apakah dia akan menjadi lebih baik, atau tidak sama sekali.  Kesimpulannya, bukan berarti kita nggak mau membuat orang lain menjadi lebih baik agamanya, tetapi.. karena bukan tugas utama kita untuk mengubah seseorang.  Lagipula bukankah akan lebih manis kalau bimbing-membimbing itu memang setelah akad nikah.  Udah halal gitu..
Huaa, panjang banget ya untuk postingan pertama di multiply ini. 

Trus Solusinya apa? inget lagi kata-kata seorang akang sambil beliau mengerenyitkan dahi dan berbicara pelan-pelan,

"Laki-laki harus punya target waktu, Jey"

Inget-inget aja ceramah teh Ninih ngeliat di TV,

"Jodoh itu dikejar. bukan nunggu dapet.  Ada 4 cara pada saat ikhtiar mencari jodoh.

1. Khusnudzon sama Alloh.
Pada saat sebelum pernikahan, kekhawatiran akan jodoh yang belum ada, jodoh bakalan gimana, pasti ada.  Pengen juga cepet2 punya pendamping, nah itu semua awal-awal harus kita ubah sikap kita kepada Alloh.  harus baik sangka.  Alloh nggak akan membuat hambanya begitu kesusahan.

2. Menyempurnakan Amal. Baik sangka ama Alloh nggak akan cukup, kalo nggak disertai penyempurnaan ibadah.  Kita ingin sesuaru dari Alloh, sementara sholat masih belum pada waktunya tepat waktu, ngomong masih kasar, baca quran jarang (aduh............ saya sendiri jadi berat nulisnya..... bismillah), ya malu sendiri ya.

3. Bergaul. Banyak ibadah, kalo nggak sama bergaul, hanya ngerem sendiri di kamar, ya mana bisa (bisa ding tapi susah), untuk mendapatkan jodoh.

4. Berdoa.  Terakhir, jangan lupa kembali pada Alloh.  berdoa. "



Akhirnya, teringat lagi deh obrolan saya dengan seorang teman akhwat yang lain,

"Adeuh, kang kapan ateuh nyusul?"

"Hehe, udah dibilangin saya ada waktu sendiri ntar X taun lagi. insya Alloh.
 Perlu melakukan beberapa hal dulu"

"Hehe, iya.  Meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar ya."

" :) "


Pasti, akan lebih manis apabila sebelum pernikahan kita meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar dulu, tidak terlalu berharap bergantung pada orang-orang yang bisa menyamankan kita.  Pokoknya niat lurus untuk mendapatkan ridho Alloh.. Minta dididik orang lain? minimalisir! . hummm. Soalnya kalo Alloh udah ridho ama kita, kalo Alloh udah sayang ama kita, maka,, taaak akan ada lagi yang bisa menghalangi kebahagiaan kita. Insya Alloh.

wallohualambishshawab --